KAHMI.ORG — Nama Asri Tadda dalam beberapa waktu terakhir semakin sering muncul dalam aktivitas Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di Sulawesi Selatan. Namun, menempatkan Asri semata sebagai seorang pengurus KAHMI tentu belum cukup untuk membaca perjalanan dan gagasan yang dibawanya.
Di balik perannya sebagai Direktur Lembaga Penerbitan dan Media Digital (LPMD) Majelis Wilayah KAHMI Sulawesi Selatan, terdapat perjalanan panjang yang berawal dari tradisi kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), aktivisme mahasiswa, dunia kesehatan, hingga kemudian bergeser ke ruang literasi, media digital, dan gerakan sosial.
Dokumen organisasi KAHMI Sulsel mencatat Asri Tadda sebagai Direktur LPMD berdasarkan SK Presidium MW KAHMI Sulsel Nomor 252/SK/MW-KAHMI/SS/VII/2024 tertanggal 17 Juli 2024. Posisi tersebut menempatkannya bukan sekadar sebagai pengelola media, tetapi sebagai salah satu orang yang diberi mandat untuk membangun kanal komunikasi, penerbitan, dan dokumentasi gagasan warga KAHMI Sulsel.
Berawal dari HMI
Jejak Asri di lingkungan HMI bermula sejak menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
Profil yang dipublikasikan website KAHMI Makassar menyebut Asri sebagai jebolan HMI Komisariat Fakultas Kedokteran Unhas. Dalam perjalanan organisasi, ia pernah menjadi pengurus HMI Komisariat Fakultas Kedokteran Unhas pada 2000–2001 dan kemudian aktif di HMI Cabang Makassar Timur pada 2001–2002. Ia juga pernah dipercaya menjadi Ketua Umum Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) HMI Cabang Makassar Timur periode 2004–2005.
Pengalaman tersebut berjalan beriringan dengan aktivitasnya di kampus. Pada periode 2001–2002, Asri menjabat Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas.
Dengan latar itu, karakter aktivismenya sejak awal berada di persimpangan antara keilmuan, organisasi, kesehatan masyarakat, dan gerakan mahasiswa.
Daftar pengalaman organisasi yang dipublikasikan dalam profil pribadinya juga menunjukkan bahwa ia mengikuti berbagai jenjang pelatihan HMI, mulai dari Basic Training hingga Intermediate Training, serta aktif dalam forum dan kegiatan LKMI di tingkat regional dan nasional.
Bagi perjalanan seorang kader, fase ini penting. Sebab, KAHMI pada dasarnya tidak berdiri sendiri sebagai organisasi alumni, tetapi merupakan kelanjutan dari jejaring intelektual dan pengabdian yang dibentuk melalui proses kaderisasi HMI.
Dari Aktivis Kesehatan ke Dunia Digital
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana kedokteran, perjalanan Asri tidak berhenti di dunia kesehatan.
Ia kemudian mengambil pendidikan Magister Hukum Kesehatan di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Profil KAHMI Sulsel juga mencatat bahwa ia melanjutkan pendidikan doktoral di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas.
Di sisi lain, Asri membangun pengalaman profesional di dunia digital. KAHMI Sulsel mencatat dirinya sebagai praktisi bisnis online sejak 2006 dan pendiri AstaMedia Group, perusahaan yang bergerak di bidang online marketing dan digital service, khususnya membantu UMKM masuk ke ekosistem digital. Ia juga pernah meraih Juara II Lomba Wirausaha Muda Mandiri tingkat nasional pada 2008.
Perpaduan antara pengalaman organisasi, pendidikan kesehatan dan hukum, serta pengalaman di dunia digital kemudian menjadi modal yang relatif unik ketika ia masuk lebih jauh ke dalam struktur KAHMI.

KAHMI sebagai Ruang Gagasan
Pada periode 2021–2026, Asri tercatat sebagai salah satu pengurus MD KAHMI Kota Makassar. Profil resmi KAHMI Makassar menyebutnya sebagai salah satu sekretaris dalam struktur organisasi tersebut.
Karier organisasionalnya kemudian berlanjut di tingkat wilayah. Melalui LPMD KAHMI Sulsel, Asri mendapat ruang untuk menggarap sesuatu yang lebih dekat dengan pengalaman profesionalnya: literasi dan media digital.
LPMD sendiri memiliki mandat mengelola website resmi KAHMI Sulsel, mengembangkan jejaring media digital KAHMI, mengelola media sosial organisasi, serta memfasilitasi penerbitan buku dan karya tulis warga KAHMI.
Di titik ini, posisi Asri menjadi menarik. Ia tidak sekadar membawa KAHMI ke dunia digital. Ia mencoba membawa tradisi intelektual KAHMI ke dalam ekosistem digital.
“Mozaik Insan Cita” dan Upaya Menghidupkan Tradisi Menulis
Salah satu proyek yang memperlihatkan pendekatan tersebut adalah penerbitan buku Mozaik Insan Cita, antologi gagasan warga KAHMI Sulsel.
Buku tersebut memuat tulisan 44 warga KAHMI Sulsel, terbagi dalam delapan klaster topik dan lebih dari 340 halaman. Buku ini diluncurkan bersamaan dengan pengukuhan pengurus LPMD KAHMI Sulsel pada September 2025.
Bagi Asri, penerbitan buku tersebut bukan sekadar proyek editorial. Ia menyebut LPMD diinisiasi dengan harapan KAHMI mampu melahirkan karya tulis yang menjadi legasi bagi semangat intelektualisme yang selama ini menjadi bagian dari tradisi HMI dan KAHMI.
Dalam pandangannya, tantangan terbesar bukan hanya menyediakan platform digital, melainkan membangun budaya menulis dan memproduksi pengetahuan.
Di sinilah tampak garis merah perjalanan Asri Tadda, dari aktivisme mahasiswa, penelitian dan kesehatan masyarakat, menuju media dan produksi gagasan.

Dari Media Organisasi ke Ruang Publik
Peran Asri di LPMD juga memperlihatkan bagaimana KAHMI Sulsel mencoba beradaptasi dengan perubahan lanskap komunikasi publik.
Dalam era ketika opini publik semakin banyak terbentuk melalui media digital, organisasi alumni tidak cukup hanya memiliki struktur dan kegiatan. Ia juga membutuhkan kemampuan untuk mendokumentasikan gagasan, membangun narasi, serta menghadirkan perspektif alumni ke ruang publik.
Asri sendiri menyebut pentingnya membangun aset digital organisasi secara berkelanjutan. Ia mendorong agar domain dan website KAHMI dapat terintegrasi sehingga aktivitas organisasi tidak berhenti sebagai dokumentasi sesaat, tetapi menjadi arsip digital dan ruang pengetahuan yang terus berkembang.
Karena itu, LPMD dapat dibaca sebagai salah satu eksperimen KAHMI Sulsel dalam menjawab perubahan zaman: bagaimana tradisi intelektual organisasi alumni diterjemahkan ke dalam bahasa digital.
Kader yang Bergerak di Banyak Ruang
Perjalanan Asri juga memperlihatkan karakter lain yang lazim ditemukan dalam tradisi alumni HMI, yakni mobilitas lintas sektor.
Ia tidak hanya berada dalam ruang KAHMI. Profil profesionalnya mencatat aktivitas di sejumlah organisasi kemasyarakatan, politik dan profesi, termasuk sebagai Ketua DPW Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan, Sekretaris Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan, Wakil Ketua Kerukunan Keluarga Luwu Timur (KKLT) dan sejumlah organisasi alumni serta komunitas lainnya.

Dalam konteks itu, KAHMI bagi Asri tampaknya bukan ruang yang terpisah dari aktivitas sosialnya, melainkan salah satu simpul dari jejaring pengabdian yang telah dibangun sejak masa mahasiswa.
Keterlibatannya dalam isu sosial, kesehatan masyarakat, kebijakan publik, media, hingga persoalan pembangunan daerah memperlihatkan pola yang sama: menghubungkan pengetahuan dengan persoalan konkret masyarakat.
KAHMI dan Tantangan Zaman
Menariknya, posisi Asri di KAHMI Sulsel berada pada fase ketika organisasi alumni HMI menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Perdebatan publik tidak lagi berlangsung hanya di ruang seminar, kampus, atau media cetak. Ia berlangsung cepat di media sosial, portal berita, platform video, dan berbagai kanal digital.
Karena itu, keberadaan LPMD KAHMI Sulsel menjadi relevan. Asri menyebut lembaga tersebut lahir untuk menjawab kebutuhan KAHMI dalam menghadapi era digital, sekaligus mendorong agar semangat literasi dapat berkembang bukan hanya di Sulawesi Selatan tetapi juga lebih luas.
Dalam konteks ini, kiprahnya dapat dibaca sebagai upaya menerjemahkan salah satu warisan penting HMI—tradisi intelektual—ke dalam bentuk yang lebih sesuai dengan zaman.

Bukan Sekadar Pengurus
Membaca Asri Tadda dari perspektif KAHMI akhirnya membawa kita pada satu kesimpulan, bahwa perjalanan organisasinya tidak bisa dipisahkan dari fase panjang ketika ia menjadi kader HMI.
Ia tumbuh dalam tradisi aktivisme kampus, memperoleh pengalaman kepemimpinan di BEM dan HMI, bergerak dalam isu kesehatan, memperdalam hukum kesehatan, masuk ke dunia kewirausahaan digital, dan kemudian membawa pengalaman tersebut ke dalam ruang alumni.
Kini, melalui LPMD KAHMI Sulsel, salah satu ruang yang digarapnya adalah bagaimana gagasan para alumni tidak berhenti sebagai percakapan internal organisasi.
Gagasan itu perlu ditulis. Perlu diterbitkan. Perlu didokumentasikan. Dan pada akhirnya, perlu dibawa ke ruang publik.
Di situlah mungkin relevansi Asri Tadda dalam KAHMI hari ini. Bukan hanya sebagai seorang pengurus, tetapi sebagai bagian dari generasi alumni yang mencoba menjembatani tradisi intelektual HMI dengan ekosistem komunikasi publik yang semakin digital.
Perjalanan itu belum selesai. Justru tantangan terbesarnya baru dimulai: apakah KAHMI mampu mengubah modal intelektual para alumninya menjadi gagasan yang memengaruhi kebijakan, memperkuat masyarakat sipil, dan memberi arah bagi pembangunan daerah maupun bangsa.
Dan Asri Tadda memilih berada di salah satu ruang strategis untuk menjawab pertanyaan tersebut: ruang gagasan dan media. (*)

